Satu
Asa, Satu Rasa, Satu Cinta
Rasanya mengagumkan
memaksa pori-pori menyerap angin dan menembus embun pagi yang dingin. Berderet
diantara barisan Kuda besi yang hilir mudik kian kemari. Tarikan gas yang tak
beraturan membuatku semakin tertantang menaiki kuda besiku.
Orang-orang saling
memaksakan kehendaknya untuk berada pada barisan paling depan diantara
pengendara-pengendara yang lain. Sepertinya mereka tak peduli terhadapku, yang
tergopoh-gopoh berusaha sekencang mungkin mengendarai Kuda besiku. Tetap saja
para pejantan tangguh itu tak mau kalah dan selalu mendahuluiku.
Ingin rasanya aku
berteriak dan hentikan dunia ini untuk sesaat. Agar aku bisa berjalan menuju
Darussalamku tanpa hambatan. Ha….ha….memang mustahil bagi manusia seperti aku.
Aku seorang Mahasiswi
yang beranjak dewasa, 19 tahun sudah aku hidup di dunia ini dengan selalu menyusahkan
orang tuaku. Kini aku sedang melangkah menuju masa depanku, masa depan cerah
yang tentunya menjadi dambaan setiap orang. Aku sadar, untuk mendapatkan semua
itu tentulah tidak mudah. Perlu perjuangan agar mendapatkan hasil yang
sempurna.
Tak sepantasnya di
usiaku sekarang ini jika aku harus menyerah, senang rasanya memiliki banyak
teman yang memiliki tujuan yang sama. Kami satu keluarga, satu tujuan, satu
cita-cita. Awalnya tak mudah bagiku untuk beradaptasi ddengan teman-teman
baruku.
Tapi sekarang aku mulai
memiliki rasa itu, rasa sayang, rasa memiliki, dan aku tahu apa itu sebuah
kebersamaan. Hal yang paling tak mudah aku lupakan ketika melakukan satu hal
bersama-sama. Makan satu piring bersama, saling melengkapi dan saling mengisi.
Rasa ini semakin hari semakin menguat, mereka adalah keluarga baruku. Merekalah
yang menghapus rasa lelahku disaat aku tiba di Darussalamku.



0 komentar:
Posting Komentar